Info
Up to 20 KBLI Bidang Usaha, Buka rekening Bank, Kartu nama Semua Direktur, Stempel perusahaan
  June 05, 2026     14:34  
980 79



Usaha budidaya lele merupakan salah satu sektor perikanan air tawar yang terus berkembang di Indonesia.

Tingginya konsumsi masyarakat terhadap ikan lele, baik dalam bentuk ikan segar maupun produk olahan, menjadikan bisnis ini tetap menarik untuk dijalankan oleh pelaku usaha skala kecil hingga besar.

Di tengah meningkatnya kebutuhan protein hewani dengan harga terjangkau, lele menjadi salah satu komoditas unggulan yang memiliki pasar luas.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga terus mendorong pengembangan budidaya lele melalui program bioflok, bantuan benih, serta penguatan akses pasar bagi pembudidaya.

Bahkan pada tahun 2026, KKP menargetkan beberapa daerah menjadi sentra produksi lele nasional guna memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat. 

Namun, muncul pertanyaan yang sering diajukan calon pengusaha: Apakah usaha lele masih menguntungkan pada tahun 2026 dan seterusnya?

Jawabannya adalah ya, masih sangat potensial, asalkan dikelola dengan baik, memahami kebutuhan pasar, serta menerapkan teknik budidaya yang efisien.



Usaha lele adalah kegiatan budidaya ikan lele yang dilakukan untuk tujuan komersial, mulai dari pembenihan, pembesaran hingga pemasaran hasil panen.

Kegiatan ini dapat dilakukan menggunakan kolam tanah, kolam beton, kolam terpal, maupun sistem bioflok.

Lele menjadi salah satu ikan air tawar favorit masyarakat Indonesia karena:

  1. Harga relatif terjangkau
  2. Mudah dibudidayakan
  3. Masa panen cepat
  4. Permintaan pasar stabil
  5. Dapat diolah menjadi berbagai produk makanan 

Selain dijual dalam bentuk segar, lele juga memiliki nilai tambah melalui produk olahan seperti:

  1. Lele fillet
  2. Abon lele
  3. Kerupuk lele
  4. Lele asap
  5. Nugget lele
  6. Bakso lele 
Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa peluang pasar lele tidak hanya berasal dari pasar ikan hidup atau segar, tetapi juga produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.




  1. UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (sebagaimana telah diubah dengan UU No. 45 Tahun 2009): Mengatur ketentuan umum budidaya perikanan, kewajiban izin, serta sanksi bagi pelanggar.
  2. UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja: Menyederhanakan proses perizinan berusaha melalui sistem perizinan berbasis risiko.
  3. Peraturan Pemerintah (PP) No. 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko: Menetapkan usaha budidaya ikan skala mikro dan kecil masuk dalam kategori Risiko Menengah Rendah



Permintaan Pasar Tinggi: Lele adalah salah satu sumber protein hewani yang paling terjangkau dan populer bagi masyarakat Indonesia. Pasarnya jelas, mulai dari warung pecel lele, pedagang pasar, hingga industri olahan. 

Masa Panen Cepat: Ikan lele sudah bisa dipanen dalam waktu 2 hingga 3 bulan sejak penebaran benih. Perputaran modal yang cepat ini memungkinkan peternak untuk segera memutar keuntungan. 

Daya Tahan Kuat: Lele memiliki kekebalan tubuh yang baik dan mampu bertahan hidup di kondisi air dengan oksigen rendah, sehingga risiko gagal panen relatif lebih rendah dibandingkan jenis ikan lainnya. 

Perawatan Sederhana: Budidaya lele tidak memerlukan lahan yang luas atau teknologi rumit. Anda bisa menggunakan kolam terpal, kolam beton, maupun sistem bioflok di pekarangan rumah. 



Berikut adalah langkah-langkah sistematis untuk memulai usaha lele potong agar langsung menghasilkan untung:

1. Persiapan Kolam Budidaya

Pilih jenis kolam yang sesuai dengan modal dan luas lahan Anda:
Kolam Terpal: Paling murah, fleksibel, mudah dibongkar pasang, dan cocok untuk pemula di lahan sempit.

Kolam Bioflok: Hemat air, hemat pakan, dan bisa menampung lele dengan kepadatan tinggi (cocok untuk area perkotaan).

Kolam Tanah/Beton: Cocok jika Anda memiliki lahan luas dan ingin berinvestasi jangka panjang.

Tips: Taburkan kapur dolomit dan pupuk kandang pada air kolam baru, lalu diamkan 7–10 hari sampai air berwarna kehijauan (tumbuh plankton) sebelum benih dimasukkan.

2. Pemilihan Benih Unggul

Kunci utama kecepatan panen ada pada kualitas benih yang kamu tebar :
Varietas Terbaik : Pilih jenis lele Sangkuriang, Mutiara, atau Dumbo yang terkenal cepat besar dan tahan penyakit.

Ukuran Ideal : Gunakan benih ukuran 5–7 cm atau 7–9 cm agar tingkat kematian rendah dan waktu panen lebih singkat.

Ciri Benih Sehat : Gerakannya lincah, berenang melawan arus air, tubuh mulus tanpa luka, dan ukuran seragam.

3. Penebaran Benih yang Benar

Jangan langsung melempar benih ke dalam kolam karena ikan bisa stres dan mati :

Aklimatisasi : Apungkan wadah/plastik benih lele di permukaan kolam selama 15–30 menit agar suhunya sama.

Pelepasan : Buka plastik perlahan dan biarkan benih lele keluar sendiri menuju air kolam.

Waktu Terbaik : Lakukan penebaran pada pagi hari (sebelum jam 9) atau sore hari saat cuaca teduh.

4. Manajemen Pakan dan Air

Pakan menyedot 60-70% total biaya produksi, sehingga pengelolaannya harus ketat:
Jadwal Tetap : Beri makan 3–4 kali sehari (pagi, siang, sore, malam) dengan pakan pelet berkadar protein tinggi (>30%).

Pakan Alternatif : Gunakan maggot (BSF), limbah ayam yang direbus, atau rucah ikan untuk menekan biaya pakan pabrikan.

Penyortiran (Grading) : Lakukan sortir ukuran lele setiap 2-3 minggu sekali. Pisahkan lele besar dan kecil agar lele yang besar tidak memakan lele yang kecil (kanibalisme).

Atur Air : Buang 10-30% air dasar kolam yang kotor (bau amonia) seminggu sekali, lalu tambahkan air baru.

5. Panen dan Pemasaran

Lele potong siap panen biasanya berukuran 8–12 ekor per kilogram :

Persiapan Panen: Puasakan lele selama 24 jam sebelum dipanen agar ikan tidak muntah saat diangkut dan dagingnya tidak bau tanah.

Target Pasar: Jual langsung ke pedagang pecel lele, pengepul pasar, rumah makan, atau olah menjadi lele bumbu frozen food untuk mendapat keuntungan dua kali lipat.



Memulai bisnis usaha lele tidak membutuhkan persyaratan yang rumit, terutama untuk skala rumahan.

Namun, agar usaha berjalan lancar dan minim risiko, Anda perlu memenuhi beberapa persyaratan teknis dan non-teknis berikut : 

1. Persyaratan Teknis & Lingkungan

Sumber Air Bersih: Menyediakan air yang tidak tercemar bahan kimia berbahaya. Air sumur atau air sungai bersih lebih disukai daripada air PDAM yang mengandung kaporit. 

Lahan dan Lokasi: Lokasi kolam harus mendapat sinar matahari cukup dan memiliki saluran pembuangan air yang baik. Pastikan limbah air kolam tidak mencemari sumur warga atau mengganggu tetangga karena bau. 

Suhu Udara Ideal: Budidaya lele optimal pada suhu air berkisar antara 25°C hingga 32°C. Indonesia sangat cocok untuk syarat ini. 

2. Persyaratan Sarana & Prasarana

Jenis Kolam : Menyiapkan wadah budidaya sesuai modal. Pilihannya meliputi kolam terpal (paling murah dan fleksibel), kolam beton/semen (paling awet), atau kolam tanah. 

Peralatan Budidaya : Menyediakan pompa air, selang, jaring/seser ikan, ember, thermometer air, alat pengukur pH, dan lampu penerangan sekitar kolam. 

Penyediaan Pakan : Memastikan akses mudah ke toko pakan untuk membeli pelet berkualitas (kadar protein 28-32%) serta menyiapkan opsi pakan alternatif.

3. Persyaratan Operasional (Skill & Pengetahuan)

Paham Manajemen Air : Menguasai cara fermentasi air sebelum benih ditebar dan paham kapan waktu yang tepat untuk mengganti air kolam (penyortiran/sipon).

Paham Manajemen Pakan : Mengerti dosis pemberian pakan (biasanya 3-5% dari berat biomassa ikan) agar pakan tidak terbuang menjadi racun amoniak. 

Kemampuan Sortir (Grading) : Bersedia melakukan penyortiran ukuran ikan secara berkala (minimal 2 minggu sekali) untuk mencegah lele yang besar memakan lele yang kecil (kanibalisme). 

4. Persyaratan Legalitas & Izin (Khusus Skala Besar)

Skala Rumahan/Kecil : Biasanya tidak memerlukan izin khusus, cukup melapor atau meminta izin ke tetangga sekitar (RT/RW) terkait kenyamanan lingkungan.

Skala Komersial/Besar : Memerlukan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem OSS (Online Single Submission) dengan KBLI budidaya perikanan, serta Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP).



Sebelum memulai usaha budidaya lele, pelaku usaha perlu memahami regulasi yang berlaku.

A. Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (OSS RBA)

Saat ini usaha budidaya ikan air tawar termasuk lele dapat didaftarkan melalui sistem OSS berbasis risiko dengan KBLI yang sesuai. 

B. KBLI Budidaya Ikan Air Tawar

Usaha budidaya lele umumnya menggunakan:

  1. KBLI 0322 – Budidaya Ikan Air Tawar
  2. KBLI 03221 – Pembesaran Ikan Air Tawar di Kolam
  3. KBLI 03226 – Pembenihan Ikan Air Tawar
  4. KBLI 03229 – Budidaya Ikan Air Tawar di Media Lainnya 

C. Sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB)

Untuk usaha yang berkembang lebih besar, pemerintah mendorong penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) guna menjamin kualitas dan keamanan hasil budidaya. 

D. Nomor Induk Berusaha (NIB)

Pelaku usaha yang ingin menjalankan usaha secara legal perlu memiliki:

  1. NIB
  2. NPWP
  3. Perizinan OSS sesuai skala usaha
  4. Legalitas usaha menjadi penting terutama jika ingin bekerja sama dengan restoran, supermarket, atau memperoleh bantuan pemerintah.



Sudah ada banyak mitra GDM yang menjalankan usaha ternak lele dengan sistem bioflok dan merasakan hasilnya.

Oleh karena itu, Anda perlu memahami tahapan usaha ternak lele yang tepat agar bisnis terarah dan menguntungkan. 
Analisa usaha ternak lele dimulai dengan mempersiapkan modal awal dan melakukan rincian biaya produksi.

Setelah itu, Anda perlu melakukan analisa untung rugi agar dapat mengelola keuangan usaha secara lebih optimal.

Langkah berikutnya adalah meningkatkan omset ternak lele melalui strategi yang tepat serta melakukan pemasaran ikan lele secara efektif.

Berikut ini penjelasan detail tahapan usaha ternak ikan lele yang dapat Anda terapkan.

Tips Sukses Pemula
  1. Gunakan Benih Unggul: Selalu pilih benih yang sehat, lincah, dan berasal dari indukan berkualitas (seperti Sangkuriang atau Mutiara) agar pertumbuhan maksimal.
  2. Manajemen Pakan yang Baik: Berikan pakan berkualitas dan hitung jumlah pakan secara berkala sesuai berat biomassa ikan agar tidak ada sisa pakan yang mengotori kolam.
  3. Perluas Pasar: Jangan hanya menjual lele dalam kondisi segar. Anda bisa mengolahnya menjadi lele bumbu siap masak, lele fillet, atau frozen food untuk meningkatkan nilai jual (profit margin).

Pelajari Teknologi Budidaya Modern

Sistem bioflok, monitoring kualitas air digital, dan manajemen pakan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas budidaya secara signifikan.



A. Kesimpulan

Prospek usaha lele di Indonesia pada tahun 2026 masih sangat menjanjikan.

Tingginya permintaan pasar, masa panen yang cepat, modal yang relatif terjangkau, serta dukungan pemerintah menjadi faktor utama yang membuat bisnis ini tetap menarik untuk dijalankan.

Bahkan pemerintah terus memperkuat budidaya lele melalui program bioflok dan pengembangan akses pasar bagi para pembudidaya. 
Meski demikian, keberhasilan usaha lele tidak hanya bergantung pada tingginya permintaan pasar. Pengelolaan kualitas air, efisiensi pakan, pemilihan bibit unggul, serta strategi pemasaran menjadi faktor penentu keuntungan jangka panjang.

B. Saran

Bagi pemula yang ingin memulai usaha lele:

  1. Mulailah dari skala kecil terlebih dahulu.
  2. Urus legalitas usaha melalui OSS dan NIB.
  3. Gunakan bibit berkualitas dari pemasok terpercaya.
  4. Terapkan pencatatan keuangan sejak awal.
  5. Bangun jaringan pemasaran sebelum masa panen.
  6. Pelajari teknologi budidaya modern seperti bioflok untuk meningkatkan produktivitas. 
Dengan perencanaan yang matang dan manajemen yang baik, usaha lele masih menjadi salah satu peluang bisnis perikanan yang potensial dan menguntungkan di Indonesia.  

Penulis : Dara Septiafitri